8/12/2013

Cerpen

KAPAN NEGARA AKAN DATANG?

Cahaya membelah setiap gelap. Semua yang mati atau hidup rupanya telah terseret waktu hingga ribuan detik. Suara orang-orang diluar rumah pun mulai timbul di permukaan setelah lama tenggelam di lautan mimpi.
Membuka dan menutup mata berkali-kali aku lakukan berharap bisa tertidur lebih lama lagi, berpaling sejenak dari hari-hari yang menjenuhkan. Sementara di luar cahaya akan merekah mempersembahkan hari baru. Hanya dari balik selimut saja, aku sepertinya bisa meramalkan bahwa hari ini tak akan jauh berbeda dengan kemarin. Bayanganku mendahului kenyataan bahwa hari ini aku hanya menemani Farah, memungut sayur-sayur bekas di pasar, sesekali turut juga dengan Bona dan kawan-kawan menadahi banyak recehan dengan modal suara yang pas-pasan.Tapi ibu sering melarangku. Aku masih terlalu kecil untuk mengikuti Farah atau Bona, meski aku hanya mengiringi mereka saja tanpa mau melakukan hal jorok dan rendah seperti itu. Kalau tidak dengan mereka, aku tak mengenal banyak teman. Membosankan jika hari-hari yang ku lewati hanya membuntuti ibu dan sekedar melihat apa yang dilakukannya. Aku terkadang merasa tersudutkan, tubuh kecilku tak mampu berbuat banyak. Bahkan ketika ayah sangat tersiksa menahan sakit, tak ada sesuatu yang berharga pun yang aku punya untuk meringankan beban ayah. Aku hanya diam membiarkan malaikat maut itu mempermainkan ayah seenaknya lalu mencabut nyawanya dengan sangat keras. Semenjak itu tak ada lagi yang bisa diharapkan dari ayah. Nasibku kemudian sudah dapat kusimpulkan sendiri. Aku hanya lahir sebagai anak-anak bodoh. Ayah tak sempat menunaikan janjinya untuk menyekolahkanku agar lebih baik dari Farah atau Bona.
“Akhh! Untuk apa cengeng!!.” Tepisku menolak setiap desakan tangis. Membentengi hati agar tak memberi celah untuk setetes air mata pun menitis di bumi.
Ayah…benarkah apa yang kau katakan dahulu, bahwa anak-anak yatim  seperti Farah dan Bona meski telah kehilangan ayah akan tetap diperhatikan negara? Saat ini negara sedang berusaha mengangkat derajat orang-orang tak mampu jauh lebih terhormat. Tapi…aku lupa bertanya padamu, seberapa lama aku dan  mereka harus menunggu? Ayah, Jika benar suatu saat negara akan datang membantu, aku tak perlu khawatir, aku akan sekolah. Aku tak mau hidup seperti Ayah atau Ibu yang menjadi pekerja rendahan dan setiap harinya harus bekerja sangat keras. Kalau kalian pintar mungkin tak perlu bekerja sekeras itu.
Tak akan ada jawaban, yang ada udara dalam kamar terasa semakin pengap memenuhi saraf-saraf otak, memaksaku bangun dan melakukan sesuatu untuk hari ini.Dengan malas, aku beranjak keluar rumah, mencoba menjernihkan pikiranku yang keruh, menikmati hawa sejuk seperti halnya burung-burung pipit yang melompat dari dahan-dahan pohon jambu air milik tetangga disamping rumah lalu hinggap di atap-atap.
Mata bulatku juga melihat jelas tubuh kurus kerontang menebas dengan kuat setiap batang kayu yang kering, membaginya menjadi potongan-potongan kecil kayu bakar untuk dijual. Sempat iba, tapi berubah risih. Setan-setan sepertinya lama bersemayam di tubuhku, sehingga tiba-tiba  suasana hatiku berubah buruk.
“Kalau seperti itu caranya ibu bekerja, kapan Ibu bisa menyekolahkanku?!”  aku mengawali percakapanku dengan ibu dengan nada sedikit kesal. Kemudian aku berusaha membendung emosiku ketika ibu hanya tersenyum tak jelas menanggapi pertanyaanku. Lalu kutegaskan sekali lagi, “Kapan Bu?!”
“Ya..jika sudah cukup biaya untuk itu. Tenanglah, lagi pula kau masih kecil, hanya terlambat dua tahun untuk sekolah dan itu tidak apa-apa.” jawabnya datar tapi sedikit membuatku tenang. Lalu sepertinya ada yang hinggap di pikiran ibu sehingga ia bertanya padaku, “Muti, kenapa kau tidak bermain dengan anak-anak yang lain seperti Diana atau Devi?” sepertinya ibu tahu bahwa hari-hariku sepi.
“Tidak. Tidak ingin saja.”jawabku ragu.
Deg! Seperti sesuatu yang direncanakan, sekali aku berpaling dari ibu, mataku terbuka lebih tajam karena Devi, anak seusiaku dan ibunya singgah dalam pandangan. Anak itu hanya mambuat iri dan menoreh luka yang dalam karena aku tak mampu seperti dirinya. Seragam merah putih, tas pink yang cerah, sepatu hitam yang mengkilat, kaos kaki putih dengan rumbai-rumbai, topi bergambarkan garuda, jam tangan berbentuk boneka, pita dengan warna-warna menghiasi rambut hitamnya yang panjang, juga cincin dan anting love yang memantulkan cahaya. Semuanya menyita cukup lama pikiranku untuk mengagumi setiap meter persegi barang-barang sekolahnya. Laksana putri raja yang dikawal sang ratu yang juga cantik dengan lipstik merah menyala ditambah wajah putih dengan polesan bedak. Keduanya bersih, rapi, dan cantik. Habis sudah. Cita-citaku dan ibu seakan dirampas oleh keduanya.
Detik,menit, jam dan hari sampai bergantinya bulan, ku lalui dengan hanya menunggu sesuatu yang tak pasti. Namun, di Bulan Ramadhan ini cukup memberi kepastian bagi semua kaum dhuafa. Jelas saja, di perkumpulan kecil kaum dhuafa, di bawah langit biru beralas tanah, Aku, Farah, Bona, Elis, dan Jajang berkerumun membahas topik yang membuat kami bersemangat. Kami tinggal bersabar sebentar lagi menunggu momen hari kemenangan. Momen dimana lembaran-lembaran uang kertas dengan mudah didapat .
“Jika aku dapat santunan, aku biasa memberikannya pada ibu” jelas Farah pada yang lain
“Wah! Hebat kau!” puji Bona
“Gawat!! Nasiiib nasib! aku baru sadar hutangku ke Bang Yana mesti segera dibayar.” susul Jajang sambil menggeleng-gelengkan kepala dan yang lain menertawakannya.
“Kecil-kecil kau pintar juga berhutang.” tanggap Bona
“Ya, karena aku kan bekerja.”
Gelak tawa anak-anak yatim itu memenuhi ruang langit. Satu persatu meluapkan keinginannya yang mungkin sudah lama terpendam. Hanya diriku yang terdiam. Karena itu Farah menegurku.
“Muti, ku dengar ibumu sakit yah?” selidik Farah mula-mula lalu melanjutkan,“ Jika kau dapat uang itu, pasti kau akan menggunakannya untuk mengobati ibumu kan?” tanya Farah sambil mengingatkan hal itu.
“Oh! Ibu biasa seperti itu. Kau jangan berlebihan. Oh ya, kau tau kan, ibuku suka  menyembunyikan uang dariku. Jadi, biarkan saja ibu menggunakan uangnya untuk berobat!” Wajah-wajah mereka berkerut mungkin menelan pahit kata-kataku.Tapi sepertinya mereka juga menyadari bahwa aku hanya anak kecil yang belum pernah merasakan getirnya perjuangan mempertahankan hidup. Aku mungkin tidak lebih pandai dari Farah, Bona dan lainnya, sehingga aku ingin sekali bertanya pada mereka yang tiga tahun lebih dewasa dariku.
“Sampai kapan kalian akan menjalani pekerjaan itu?”
“ Kita belum tahu harus bekerja apa, sementara hanya itu yang bisa kita lakukan.” ucap Elis mewakili yang lain, “Kau masih kecil, bertanya hal lain saja.” tambah Elis mematahkan keingintahuanku. Tapi aku terus saja bertanya.
“Apa kalian tidak ingin sekolah juga?”
“Alah! gak kebayang Mut. Kita sudah besar. Mau di tempatkan di kelas satu SD?” celetuk Bona diiringi tawa.
“O ya, apa benar negara akan membantu orang-orang yang susah kaya kita?”
“Sepertinya begitu. Lihat saja, ibumu sering dapat beras gratis kan? Nah, itu dari negara kita dan masih banyak lagi.” jawab Farah dengan sangat bangga bisa memberikan contoh.
“Tapi..bukannya kebutuhan kita tidak hanya makanan?”
“Lalu apa?” sambut Elis dengan nada menantang
“Hmm..misalnya, negara menyekolahkan kita, seperti orang tua, selain memberi makan anaknya harus menyekolahkannya juga kan? Jadi kalau sudah pintar bisa membeli makanan sendiri.” semua wajah mulai menatapku lekat. Mereka tersentak mendengar kata-kata anak kecil sepertiku yang begitu dalam yang biasanya hanya kata-kata yang banyak mengandung amarah dan prasangka.
Langit semakin redup.  Percakapan kami mulai surut sore itu seiring dengan kepergian satu-persatu dari kami kembali ke rumah masing-masing sampai senja menutup pertemuan kami hari itu.
Bulan puasa telah berlalu. Malam setelah idul fitri begitu dingin menggigit kulit. Cuaca diluar sangat mencekam. Sepertinya hujan besar akan turun. Dan benar, air begitu banyak menggenang di permukaan tanah. Pohon-pohon terhempas angin besar seperti akan tumbang. Gelap.
Sangat menakutkan.Sekejap saja semua yang bisa ku lihat lenyap dalam hitam. Pekat. Semua listrik padam. Khawatir ini akan lama, aku memanggil ibu berkali-kali.
“Bu.. Bu..cepat nyalakan obornya Bu, aku di kursi depan sendiri!” aku terdiam sesaat, berusaha mendengarkan baik-baik suara ibu sebab suara petir itu tak mau mengalah.
“Bu….” kali ini suaraku merendah, tahu bahwa ibu tertidur lebih cepat dariku. Dengan susah payah menerka apa saja di balik gelap untuk menghampiri ibu di kamar, akhirnya aku bisa beranjak menemani ibu tidur.Tapi ternyata ibu belum tertidur, ia bilang, “Lain waktu kau harus menyalakan obornya sendiri.” suaranya sangat pelan.
Pagi begitu basah setelah semalaman hujan panjang tak kunjung reda. Semuanya berubah sepi. Orang-orang semakin jarang berlalu lalang di depan rumah. Hujan rupanya membuat orang menjadi malas beraktifitas. Ibu juga demikian tak cepat-cepat bangun. Aku menepuk tubuh ibu pelan lalu mengguncang-guncangkan tubuhnya.Tubuhnya sangat dingin dan beku. Ibu, apakah semalam kau begitu kedinginan? Aku tiba-tiba menjadi sangat khawatir dan tetes-tetes air mataku semakin deras membuat pagi semakin basah.
“Bu…ayo kita ke dokter. Ibu sakit kan?? Aku punya uang tabungan idul fitri kemarin, ini bu!” Aku mengangkat segera kasur lapuk yang ditiduri ibu dan mengambil 2 lembar seratus ribuan agar ibu percaya.
Batu itu hancur berkeping-keping. Kerasnya hatiku kini sangat rapuh. Aku lemah, lunglai, kelu tak dapat berkata-kata. Ditambah malaikat-malaikat seperti sedang menggertakku. Mencaci maki sikap burukku pada ibu selama ini. Dadaku sesak tak mampu lagi bicara. Ibu tak mungkin kembali lagi untuk menerima maafku.
Sejak kepergian ibu, tak ada banyak pilihan. Terpaksa aku harus memulung sampah sampah dipasar. Profesi yang ditawarkan oleh teman-temanku. Tentu profesi itu tidak lebih baik dari Farah dan Bona. Panas yang meradang di siang hari tak membuatku lemah. Aku harus berdiri sendiri, tanpa harus terus menerus bergantung pada orang-orang disekitarku karena suatu saat nanti aku bukan lagi anak kecil yang mendapat perhatian lebih. Sedikit demi sedikit aku membungkus rasa Maluku untuk mempertahankan hidup. Di setiap kucuran keringat setiap harinya, aku masih menyimpan sedikit harapan bahwa negara akan datang untuk mengajariku hidup lebih baik bukan untuk memberiku makan, sebab negara sudah terlalu sibuk hanya untuk sekedar menemaniku dan menanyakan makanku. Aku tidak ingin negara terus-terusan memelihara anak-anak yatim sepertiku tapi aku ingin suatu saat nanti negara juga mengeluarkan orang-orang sepertiku dari kebodohan sehingga hidup kami tidak menggantung. Bahkan, kalau aku pandai, aku ingin sekali membantu negara yang belum pernah ku lakukan pada ayah dan ibu. Ya, entah! aku pun tak tahu pasti kapan negara akan datang? Yang ku tahu saat ini negara masih terlalu sibuk.
Berpuluh-puluh kali rasa lapar menusuk. Beratus-ratus matahari telah kurasakan. Beribu-ribu kali debu-debu jalanan melukai mata.Tapi, semuanya hari ini bisa kuhadapi dan akan terus kuhadapi sampai batas-batas waktu mengantarku hidup lebih baik atau mati terhina.








1 komentar:

Unknown mengatakan...

study again..

Previous Home