KAPAN NEGARA AKAN DATANG?
Cahaya membelah setiap gelap. Semua yang mati atau hidup rupanya telah
terseret waktu hingga ribuan detik. Suara orang-orang diluar rumah pun mulai
timbul di permukaan setelah lama tenggelam di lautan mimpi.
Membuka dan menutup mata berkali-kali aku lakukan berharap bisa
tertidur lebih lama lagi, berpaling sejenak dari hari-hari yang menjenuhkan. Sementara
di luar cahaya akan merekah mempersembahkan hari baru. Hanya dari balik selimut
saja, aku sepertinya bisa meramalkan bahwa hari ini tak akan jauh berbeda dengan
kemarin. Bayanganku mendahului kenyataan bahwa hari ini aku hanya menemani Farah,
memungut sayur-sayur bekas di pasar, sesekali turut juga dengan Bona dan
kawan-kawan menadahi banyak recehan dengan modal suara yang pas-pasan.Tapi ibu
sering melarangku. Aku masih terlalu kecil untuk mengikuti Farah atau Bona,
meski aku hanya mengiringi mereka saja tanpa mau melakukan hal jorok dan rendah
seperti itu. Kalau tidak dengan mereka, aku tak mengenal banyak teman. Membosankan
jika hari-hari yang ku lewati hanya membuntuti ibu dan sekedar melihat apa yang
dilakukannya. Aku terkadang merasa tersudutkan, tubuh kecilku tak mampu berbuat
banyak. Bahkan ketika ayah sangat tersiksa menahan sakit, tak ada sesuatu yang
berharga pun yang aku punya untuk meringankan beban ayah. Aku hanya diam membiarkan
malaikat maut itu mempermainkan ayah seenaknya lalu mencabut nyawanya dengan sangat
keras. Semenjak itu tak ada lagi yang bisa diharapkan dari ayah. Nasibku
kemudian sudah dapat kusimpulkan sendiri. Aku hanya lahir sebagai anak-anak
bodoh. Ayah tak sempat menunaikan janjinya untuk menyekolahkanku agar lebih
baik dari Farah atau Bona.
“Akhh! Untuk apa cengeng!!.” Tepisku menolak setiap desakan tangis.
Membentengi hati agar tak memberi celah untuk setetes air mata pun menitis di
bumi.
Ayah…benarkah apa yang kau katakan dahulu, bahwa anak-anak yatim seperti Farah dan Bona meski telah kehilangan ayah
akan tetap diperhatikan negara? Saat ini negara sedang berusaha mengangkat
derajat orang-orang tak mampu jauh lebih terhormat. Tapi…aku lupa bertanya padamu,
seberapa lama aku dan mereka harus
menunggu? Ayah, Jika benar suatu saat negara akan datang membantu, aku tak
perlu khawatir, aku akan sekolah. Aku tak mau hidup seperti Ayah atau Ibu yang
menjadi pekerja rendahan dan setiap harinya harus bekerja sangat keras. Kalau
kalian pintar mungkin tak perlu bekerja sekeras itu.
Tak akan ada jawaban, yang ada udara dalam kamar terasa semakin pengap
memenuhi saraf-saraf otak, memaksaku bangun dan melakukan sesuatu untuk hari
ini.Dengan malas, aku beranjak keluar rumah, mencoba menjernihkan pikiranku
yang keruh, menikmati hawa sejuk seperti halnya burung-burung pipit yang
melompat dari dahan-dahan pohon jambu air milik tetangga disamping rumah lalu
hinggap di atap-atap.
Mata bulatku juga melihat jelas tubuh kurus kerontang menebas
dengan kuat setiap batang kayu yang kering, membaginya menjadi
potongan-potongan kecil kayu bakar untuk dijual. Sempat iba, tapi berubah risih.
Setan-setan sepertinya lama bersemayam di tubuhku, sehingga tiba-tiba suasana hatiku berubah buruk.
“Kalau seperti itu caranya ibu bekerja, kapan Ibu bisa
menyekolahkanku?!” aku mengawali
percakapanku dengan ibu dengan nada sedikit kesal. Kemudian aku berusaha
membendung emosiku ketika ibu hanya tersenyum tak jelas menanggapi
pertanyaanku. Lalu kutegaskan sekali lagi, “Kapan Bu?!”
“Ya..jika sudah cukup biaya untuk itu. Tenanglah, lagi pula kau
masih kecil, hanya terlambat dua tahun untuk sekolah dan itu tidak apa-apa.” jawabnya
datar tapi sedikit membuatku tenang. Lalu sepertinya ada yang hinggap di
pikiran ibu sehingga ia bertanya padaku, “Muti, kenapa kau tidak bermain dengan
anak-anak yang lain seperti Diana atau Devi?” sepertinya ibu tahu bahwa
hari-hariku sepi.
“Tidak. Tidak ingin saja.”jawabku ragu.
Deg! Seperti sesuatu yang direncanakan, sekali aku berpaling dari
ibu, mataku terbuka lebih tajam karena Devi, anak seusiaku dan ibunya singgah
dalam pandangan. Anak itu hanya mambuat iri dan menoreh luka yang dalam karena
aku tak mampu seperti dirinya. Seragam merah putih, tas pink yang cerah, sepatu
hitam yang mengkilat, kaos kaki putih dengan rumbai-rumbai, topi bergambarkan
garuda, jam tangan berbentuk boneka, pita dengan warna-warna menghiasi rambut
hitamnya yang panjang, juga cincin dan anting love yang memantulkan cahaya.
Semuanya menyita cukup lama pikiranku untuk mengagumi setiap meter persegi
barang-barang sekolahnya. Laksana putri raja yang dikawal sang ratu yang juga
cantik dengan lipstik merah menyala ditambah wajah putih dengan polesan bedak.
Keduanya bersih, rapi, dan cantik. Habis sudah. Cita-citaku dan ibu seakan dirampas
oleh keduanya.
Detik,menit, jam dan hari sampai bergantinya bulan, ku lalui dengan
hanya menunggu sesuatu yang tak pasti. Namun, di Bulan Ramadhan ini cukup memberi
kepastian bagi semua kaum dhuafa. Jelas saja, di perkumpulan kecil kaum dhuafa,
di bawah langit biru beralas tanah, Aku, Farah, Bona, Elis, dan Jajang berkerumun
membahas topik yang membuat kami bersemangat. Kami tinggal bersabar sebentar
lagi menunggu momen hari kemenangan. Momen dimana lembaran-lembaran uang kertas
dengan mudah didapat .
“Jika aku dapat santunan, aku biasa memberikannya pada ibu” jelas
Farah pada yang lain
“Wah! Hebat kau!” puji Bona
“Gawat!! Nasiiib nasib! aku baru sadar hutangku ke Bang Yana mesti
segera dibayar.” susul Jajang sambil menggeleng-gelengkan kepala dan yang lain
menertawakannya.
“Kecil-kecil kau pintar juga berhutang.” tanggap Bona
“Ya, karena aku kan bekerja.”
Gelak tawa anak-anak yatim itu memenuhi ruang langit. Satu persatu
meluapkan keinginannya yang mungkin sudah lama terpendam. Hanya diriku yang
terdiam. Karena itu Farah menegurku.
“Muti, ku dengar ibumu sakit yah?” selidik Farah mula-mula lalu
melanjutkan,“ Jika kau dapat uang itu, pasti kau akan menggunakannya untuk
mengobati ibumu kan?” tanya Farah sambil mengingatkan hal itu.
“Oh! Ibu biasa seperti itu. Kau jangan berlebihan. Oh ya, kau tau
kan, ibuku suka menyembunyikan uang
dariku. Jadi, biarkan saja ibu menggunakan uangnya untuk berobat!” Wajah-wajah
mereka berkerut mungkin menelan pahit kata-kataku.Tapi sepertinya mereka juga
menyadari bahwa aku hanya anak kecil yang belum pernah merasakan getirnya perjuangan
mempertahankan hidup. Aku mungkin tidak lebih pandai dari Farah, Bona dan lainnya,
sehingga aku ingin sekali bertanya pada mereka yang tiga tahun lebih dewasa
dariku.
“Sampai kapan kalian akan menjalani pekerjaan itu?”
“ Kita belum tahu harus bekerja apa, sementara hanya itu yang bisa
kita lakukan.” ucap Elis mewakili yang lain, “Kau masih kecil, bertanya hal
lain saja.” tambah Elis mematahkan keingintahuanku. Tapi aku terus saja
bertanya.
“Apa kalian tidak ingin sekolah juga?”
“Alah! gak kebayang Mut. Kita sudah besar. Mau di tempatkan di
kelas satu SD?” celetuk Bona diiringi tawa.
“O ya, apa benar negara akan membantu orang-orang yang susah kaya
kita?”
“Sepertinya begitu. Lihat saja, ibumu sering dapat beras gratis
kan? Nah, itu dari negara kita dan masih banyak lagi.” jawab Farah dengan
sangat bangga bisa memberikan contoh.
“Tapi..bukannya kebutuhan kita tidak hanya makanan?”
“Lalu apa?” sambut Elis dengan nada menantang
“Hmm..misalnya, negara menyekolahkan kita, seperti orang tua,
selain memberi makan anaknya harus menyekolahkannya juga kan? Jadi kalau sudah
pintar bisa membeli makanan sendiri.” semua wajah mulai menatapku lekat. Mereka
tersentak mendengar kata-kata anak kecil sepertiku yang begitu dalam yang
biasanya hanya kata-kata yang banyak mengandung amarah dan prasangka.
Langit semakin redup. Percakapan
kami mulai surut sore itu seiring dengan kepergian satu-persatu dari kami
kembali ke rumah masing-masing sampai senja menutup pertemuan kami hari itu.
Bulan puasa telah berlalu. Malam setelah idul fitri begitu dingin
menggigit kulit. Cuaca diluar sangat mencekam. Sepertinya hujan besar akan
turun. Dan benar, air begitu banyak menggenang di permukaan tanah. Pohon-pohon
terhempas angin besar seperti akan tumbang. Gelap.
Sangat menakutkan.Sekejap saja semua yang bisa ku lihat lenyap
dalam hitam. Pekat. Semua listrik padam. Khawatir ini akan lama, aku memanggil
ibu berkali-kali.
“Bu.. Bu..cepat nyalakan obornya Bu, aku di kursi depan sendiri!”
aku terdiam sesaat, berusaha mendengarkan baik-baik suara ibu sebab suara petir
itu tak mau mengalah.
“Bu….” kali ini suaraku merendah, tahu bahwa ibu tertidur lebih
cepat dariku. Dengan susah payah menerka apa saja di balik gelap untuk
menghampiri ibu di kamar, akhirnya aku bisa beranjak menemani ibu tidur.Tapi ternyata
ibu belum tertidur, ia bilang, “Lain waktu kau harus menyalakan obornya sendiri.”
suaranya sangat pelan.
Pagi begitu basah setelah semalaman hujan panjang tak kunjung reda.
Semuanya berubah sepi. Orang-orang semakin jarang berlalu lalang di depan rumah.
Hujan rupanya membuat orang menjadi malas beraktifitas. Ibu juga demikian tak
cepat-cepat bangun. Aku menepuk tubuh ibu pelan lalu mengguncang-guncangkan
tubuhnya.Tubuhnya sangat dingin dan beku. Ibu, apakah semalam kau begitu
kedinginan? Aku tiba-tiba menjadi sangat khawatir dan tetes-tetes air mataku
semakin deras membuat pagi semakin basah.
“Bu…ayo kita ke dokter. Ibu sakit kan?? Aku punya uang tabungan
idul fitri kemarin, ini bu!” Aku mengangkat segera kasur lapuk yang ditiduri
ibu dan mengambil 2 lembar seratus ribuan agar ibu percaya.
Batu itu hancur berkeping-keping. Kerasnya hatiku kini sangat
rapuh. Aku lemah, lunglai, kelu tak dapat berkata-kata. Ditambah malaikat-malaikat
seperti sedang menggertakku. Mencaci maki sikap burukku pada ibu selama ini.
Dadaku sesak tak mampu lagi bicara. Ibu tak mungkin kembali lagi untuk menerima
maafku.
Sejak kepergian ibu, tak ada banyak pilihan. Terpaksa aku harus
memulung sampah sampah dipasar. Profesi yang ditawarkan oleh teman-temanku.
Tentu profesi itu tidak lebih baik dari Farah dan Bona. Panas yang meradang di
siang hari tak membuatku lemah. Aku harus berdiri sendiri, tanpa harus terus
menerus bergantung pada orang-orang disekitarku karena suatu saat nanti aku bukan
lagi anak kecil yang mendapat perhatian lebih. Sedikit demi sedikit aku
membungkus rasa Maluku untuk mempertahankan hidup. Di setiap kucuran keringat
setiap harinya, aku masih menyimpan sedikit harapan bahwa negara akan datang
untuk mengajariku hidup lebih baik bukan untuk memberiku makan, sebab negara
sudah terlalu sibuk hanya untuk sekedar menemaniku dan menanyakan makanku. Aku
tidak ingin negara terus-terusan memelihara anak-anak yatim sepertiku tapi aku
ingin suatu saat nanti negara juga mengeluarkan orang-orang sepertiku dari
kebodohan sehingga hidup kami tidak menggantung. Bahkan, kalau aku pandai, aku
ingin sekali membantu negara yang belum pernah ku lakukan pada ayah dan ibu.
Ya, entah! aku pun tak tahu pasti kapan negara akan datang? Yang ku tahu saat
ini negara masih terlalu sibuk.
Berpuluh-puluh kali rasa lapar menusuk. Beratus-ratus matahari telah
kurasakan. Beribu-ribu kali debu-debu jalanan melukai mata.Tapi, semuanya hari
ini bisa kuhadapi dan akan terus kuhadapi sampai batas-batas waktu mengantarku
hidup lebih baik atau mati terhina.