Kuliah

 DISABILITY LEARNING
(KETIDAKMAMPUAN BELAJAR)
                                                                                       
Disability Learning sesungguhnya kurang tepat jika diartikan kesulitan belajar karena learning artinya belajar dan disability artinya ketidakmampuan; sehingga terjemahan yang benar seharusnya adalah ketidakmampuan belajar. Namun, terkadang istilah kesulitan belajar digunakan untuk mengartikan disability learning karena dirasakan lebih optimistik. Disability Learning adalah salah satu pengertian khusus dari kesulitan belajar (Difficulty Learning).
Kirk dan Ghallager (1986) menyebutkan faktor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut:
1)      Faktor Disfungsi Otak
2)      Faktor Genetik
3)      Faktor Lingkungan dan Malnutrisi
4)      Faktor Biokimia
Definisi Disability Learning
Disability Learning adalah keterlambatan dalam menguasai kemampuan akademik dasar seperti : berhitung, membaca, mengeja dan menulis (1963: Samuel Kirk)
Disability Learning adalah suatu kondisi kronis yang diduga bersumber pada neurologis yang secara selektif mengganggu perkembangan, integrasi dan atau kemampuan verbal dan atau nonverbal (ACALD : Association for Children and Adult with Learning Disabilities)
Faktor-faktor sindrom psikologis berupa disability learning dapat dipandang sebagai faktor khusus. Sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1988) yang menimbulkan kesulitan belajar itu terdiri atas:
1)  Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca, termasuk ketidakmampuan mengeja dan menulis. Anak disleksia memiliki cirri pemrosesan informasi yang tidak efisien, kesulitan dalam working memory, kesulitan mengurutkan dan organisasi. Misalnya mengeja huruf b jadi d, membaca ‘susu’ jadi ‘usus’.
2)    Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis, termasuk penyimpangan kelancaran verbal dan menyatakan pikirannya dalam bentuk tulisan. Misalnya menulis terbalik ‘nama’ jadi ‘mana’, angka 6 jadi 9, dll.
3)   Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika atau ketidakmampuan untuk berfikir kuantitatif, misalnya tidak dapat membedakan tanda + dengan x
4) Dispraksia, yakni ceroboh dan kurang terampil misalnya sering menabrak ujung meja, tidak dapat menggunting garis lurus.
Namun demikian, siswa yang mengalami sindrom-sindrom di atas secara umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu gangguan ringan pada otak (Lask, 1985:Reber, 1988)

Diagnosis Kesulitan Belajar
Diagnosis Kesulitan Belajar adalah upaya mengenali gejala dengan cermat terhadap fenomena yang menunjukan kemungkinan adanya kesulitan belajar.
Banyak langkah-langkah diagnostik yang dapat di tempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Senf (1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut:
1)      Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran;
2)      Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar;
3)    Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan   kesulitan belajar;
4)  Memberikan tes diagnostic bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa;
5)  Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
STUDI KASUS
DISABILITY LEARNING
(DISLEKSIA-DISKALKULIA)
Miles dan Miles (1992) melaporkan bahwa sebagian besar penyandang disleksia mengalami diskalkulia. Disleksia dapat juga bermanifestasi sebagai gangguan berkomunikasi ataupun kesulitan dalam matematika (diskalkulia). Disini akan dibahas lebih banyak mengenai kesulitan matematika pada anak penyandang disleksia atau yang dikenal sebagai “disleksia-diskalkulia”. Berikut adalah berbagai aspek kesulitan yang mungkin ditemukan pada anak penyandang disleksia-diskalkulia:
1.      Kesulitan membaca kalimat dalam soal matematika. Anak disleksia-diskalkulia mengalami kesulitan dalam memaknai kata-kata / istilah-istilah yang sering tampil dalam soal-soal matematika. Anak sulit memahami pengertian-pengertian sebagai berikut: ‘kurang lebih sama dengan’, ‘ diantaranya’, ‘ sejajar’, ‘ jalan lain, ‘sama banyak dengan’, ‘ di pinggir’, ‘ di atas dari’, ‘ di bawah dari’, ‘ di samping dari’, ‘ jauh dari’, ‘ seimbang’,  ‘sama dengan’, ‘ lebih besar dari’, ‘ lebih tinggi dari ‘, ‘di depan dari’, ‘di sudut dari ‘, ‘perkirakan’, ‘kurang dari’,  ‘garis yang simetris’, ‘ganjil’, ‘genap’, ‘simetris’, ‘rata-rata’, ‘secukupnya’, dll.

2.      Kesulitan membaca angka, membaca angka dari kanan, menyalin angka
Sesuai dengan karakteristik disleksianya, anak seringkali salah “lihat” angka, lalu salah menyalinnya. Sering pula dijumpai mereka tidak dapat mengelompokkan angka dari kanan pada angka dengan jumlah digit yang banyak, misalnya: 752250, seharusnya dituliskan sebagai 752.250.

3.      Kesulitan memahami nilai satuan, puluhan, ratusan sehingga menyulitkan pada penulisan, apalagi pada operasi perhitungan yang lebih kompleks lainnya misalnya pada operasi penjumlahan ke bawah, mereka menyusun nilai satuan di kelompok puluhan, atau nilai ratusan di puluhan.

4.      Kesulitan mengenali simbol operasi perhitungan. Anak disleksia-diskalkulia mengalami kesulitan untuk memahami symbol (+), (-), (x), (:), dan symbol-simbol lain yang lebih rumit. Soal-soal yang ditulis dengan symbol (-), mungkin malah dikerjakan  selayaknya instruksi (+). Bahkan pada sebagian anak dengan gangguan berat, mereka merasa tidak yakin apakah yang dimaksud dengan “bertambah” atau “berkurang”.

5.      Kesulitan mengidentifikasi bentuk, apalagi jika bentuknya dibolak balik (missal: segitiga sama sisi, segitiga sama kaki)

6.      Kesulitan mengenali dan memahami tanda “,” sebagai tanda decimal

7.      Kesulitan menghitung ke depan dan ke belakang

8.      Kesulitan melakukan perhitungan di luar kepala

9.      Kesulitan membaca, memahami dan mengingat “time table”

10.  Kesulitan mengatakan hari dalam seminggu, bulan dalam setahun

11.  Kesulitan menyebutkan waktu dan memahami konsep waktu

12.  Kesulitan memahami konsep uang

13.  Kesulitan menggunakan kalkulator dengan benar

14.  Kesulitan memahami persentase

15.  Kesulitan mengestimasi

16.  Kesulitan menggunakan rumus

17.  Kesulitan menggunakan rumus yang sama untuk soal yang berbeda
Selain kesulitan memahami bahasa matematika , anak disleksia-diskalkulia juga mengalami kesulitan dalam memaknai istilah-istilah non matematika, hal ini yang membuat mereka semakin susah menyelesaikan soal-soal matematika, terutama yang berbentuk soal cerita.
Contoh:
  • Untuk belajar membuat robot, Ayah harus membayar seratus ribu rupiah untuk empat kali pertemuan dimana satu kali pertemuan adalah 2 jam lamanya.
  • Anak disleksia-diskalkulia bingung memaknai istilah “dimana”, “lamanya”
Hal yang dapat kita lakukan terhadap penyandang disleksia-diskalkulia diantaranya yaitu:
  • Gunakan bahasa matematika yang lebih sederhana, jelas dan lebih mudah dipahami anak disleksia
  • Latih anak untuk memahami dan menguasai simbol angka, dan symbol operasi perhitungan matematika
  • Bantu anak memahami soal cerita dengan cara menghadirkan benda-benda yang disebutkan dalam soal secara visual atau Belajar praktikal
  • Gunakan kertas berpetak untuk membantu operasi perhitungan susun ke bawah
  • Lakukan fragmentasi soal cerita yang panjang menjadi kalimat kalimat pendek yang mudah dipahami.
  • Latih anak untuk mengerti dan menguasai konsep uang, misalnya dengan berlatih berbelanja sendiri mulai dari sejumlah barang yang sedikit sampai dengan yang cukup banyak
  • Kertas kerja dibacakan dan direkam dalam audio tape, anak membaca sambil menyimak audio tape
  • Gunakan buku agenda untuk mencatat kegiatan kegiatan dan pekerjaan rumah
  • Yakinkan bahwa instruksi disampaikan dengan jelas, perlahan sehingga murid mengerti
  • Gunakan kertas untuk menutup soal yang sudah atau belum dikerjakan, soal yang terlihat hanya soal yang sedang dikerjakan
Selain pendekatan khusus untuk aspek diskalkulianya, jangan lupakan strategi pembelajaran umum bagi anak penyandang disleksia yaitu digunakan pendekatan multisensoris (dapat berupa bantuan gambar, audiotape, dll), mengajarkan anak untuk menggunakan logikanya, bukan menghafal mati, berikan materi bertahap satu per satu, dan berikan materi dalam unit-unit kecil. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah memperhatikan aspek emosi anak. Selalu berikan semangat dan pujian pada setiap usaha perbaikan yang telah mereka tunjukkan.
PENDAPAT PENULIS MENGENAI DISABILITY LEARNING BERDASARKAN PERSPEKTIF ISLAM
Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amalan kalian”(HR Muslim 2564).
Setiap mahluk ciptaan Allah pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Hal ini jelas termaktub dalam Al-Quran surat az-Zukhruf ayat 32,
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian dapat mempergunakan yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
Disini kaitannya dengan disability learning saya kira bahwa hakikatnya kondisi atau keadaan tubuh kita adalah karunia dari Allah agar satu sama lain diantaranya, bisa saling menggunakan. Sederhananya, kalau ada yang buta maka akan ada orang yang bisa melihat yang bakal membacakan para tunanetra, kisah-kisah untuk menjadi ladang amal baginya. Atau ketika kita tidak mampu melihat, misalnya, sebetulnya Allah tengah menganugrahi kita kemampuan yang lain, seperti kekuatan mata hati, misalnya. Sehingga kemampuan yang tinggi tetap dapat di capai karena kejernihan pikiran dan kebeningan hati. Sebaliknya banyak orang yang dapat melihat tetapi tidak menggunakan penglihatannya dengan benar lambat laun dapat menimbulkan ketumpulan dalam berfikir.
Dapat disimpulkan bahwa sebenarnya siswa yang memiliki kekurangan, ketidakmampuan atau bahkan ketidaksempurnaan fisik maupun psikis masih mempunyai begitu banyak potensi dalam dirinya yang dapat di kembangan melalui proses pembelajaran yang sesuai dengan keadaaanya.Masalah disability learning menjadi bagian dari tanggung jawab orang tua dan pendidik untuk mencari cara yang tepat dalam menyampaikan pelajaran bagi anak-anak yang memiliki masalah ketidakmampuan belajar ini. Maka jangan sampai orang tua atau guru berputus asa mengatasi hal tersebut, karena usaha orangtua atau pendidik akan sangat berharga bagi prestasi anak didiknya.
Rasulullah Saw bersabda : “Pertolonganmu terhadap orang lemah dengan kekuatanmu berpahala sedekah, dan penjelasanmu terhadap orang yang tidak jelas ucapannya berpahala sedekah" (HR Ahmad 20401)
Adapun untuk mengatasi kesulitan belajar siswa pengidap sindrom disleksia-diskalkulia, guru dan orang tua sangat dianjurkan untuk memanfaatkan support teachers (guru pendukung). Namun, untuk mengatasi kesulitan karena tidak adanya support teachers itu orang tua siswa dapat berhubungan dengan biro konsultasi psikologid dan pendidikan yang biasanya terdapat pada fakultas   psikologi dan fakultas keguruan yang terkemuka dikota-kota besar tertentu.
Sebagai akhir dari tulisan ini, al-Quran menegaskan dalam surat at-Tin ayat 4-6 Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, bagi mereka pahala yang tak putus-putusnya.”Maka apa pun kekurangan atau keadaan seseorang tidak dijadikan sebagai hambatan atau penghalang meraih prestasi karena pada hakikatnya ia adalah mahluk yang sebaik-baiknya.

Tidak ada komentar:

Home