Mengembara
Dipanasnya siang ini, hatiku teduh di
hadapan pepohonan kecil yang mempunyai bunga warna kuning menyala-nyala diterpa
terang sang matahari tepat di atas.
Tak kupedulikan binar mata memandangku
tak biasa. Sebab siapa tahu aku memang tak biasa. Biar rumit persahabatanku ku
bawa termangu di bawah panas siang ini.
Ah, yang kutunggu itu belum kunjung
keluar. Aku berharap satu-satunya hati itu akan bercerita banyak meski harus ku
tumpuk-tumpuk dalam ruang hati yang carut-marut. Aku ingin melepaskan rantai
yang mengikat pembicaraan kita hari ini. Aku bukan malaikat, tapi ingin ku
pegang erat sayap-sayapnya biar aku mampu belajar terbang setinggi-tingginya,
belajar makna disetiap tempat.
Tak ada yang tahu aku duduk dibawah
gedung-gedung tinggi ini. Karya abad ini yang begitu cerdas, tapi yang duduk
ini hanya memandangnya lemah. Tak tahu dunia, padahal jasad dan nyawanya
berkelana disana. Mungkin hanya sepenggal hidupku yang kuhabiskan untuk
menyentuh setiap permukaan dinding-dinding besar itu. Untuk melihat dimensi
kecerdasan zaman.
Aku malu menunggumu disini. Sebab, aku
tak berarti untuk apapun. Yang bisa kuberi akan kuberikan sampai habis di
sisa-sisa persahabatan dan cinta yang mengembara.
Masih lamakah? Kutunggu ya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar